Rumah Adat Karo di Kompleks Gereja Katolik Berastagi Ludes Terbakar, Kerugian Rp650 Juta

By Sehat Siahaan - Monday, 18 May 2026
Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan sisa kobaran api usai kebakaran rumah adat Karo milik Gereja Katolik Paroki Berastagi di Desa Kau Gumba, Kabupaten Karo, Senin (18/5/2026).(Foto:Dok.Damkar Karo/Kabarnas.id)
Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan sisa kobaran api usai kebakaran rumah adat Karo milik Gereja Katolik Paroki Berastagi di Desa Kau Gumba, Kabupaten Karo, Senin (18/5/2026).(Foto:Dok.Damkar Karo/Kabarnas.id)

Karo – Satu unit rumah adat Karo milik Gereja Katolik Paroki yang berada di Jalan Jamin Ginting, Desa Kau Gumba, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, hangus terbakar pada Senin (18/5/2026) sekitar pukul 03.20 WIB.

Peristiwa kebakaran yang terjadi di lingkungan Gereja Katolik Paroki Berastagi itu sempat menghebohkan warga sekitar.

Api dengan cepat membesar dan melahap bangunan rumah adat beserta sejumlah material di lokasi kejadian.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Warga yang mengetahui kejadian langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran Pos Berastagi. 

Informasi itu kemudian diteruskan ke Kantor Pemadam Kebakaran Kabanjahe guna penanganan lebih lanjut.

Sebanyak lima unit mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten Karo diterjunkan ke lokasi untuk memadamkan api. 

Berkat kesigapan petugas, kobaran api berhasil dikendalikan dalam waktu sekitar 25 menit sehingga tidak merembet ke bangunan lain di sekitar gereja.

Selain menghanguskan rumah adat Karo, kebakaran juga merusak satu unit bus sekolah jenis L300 dengan nomor polisi BK 7030 LS yang terparkir di area tersebut.

Petugas pemadam kebakaran menyebutkan total kerugian material akibat peristiwa ini diperkirakan mencapai Rp650 juta.

Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwajib. Tim penyidik kebakaran telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan di lokasi guna mengetahui sumber api yang memicu kebakaran tersebut.

Peristiwa ini menjadi perhatian warga setempat karena rumah adat Karo tersebut memiliki nilai budaya dan menjadi bagian dari lingkungan pelayanan gereja di kawasan Berastagi.[]