Mandailing Natal — Intensitas hujan tinggi sejak beberapa hari terakhir menyebabkan banjir dan pergeseran tanah di sejumlah titik di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Situasi memburuk ketika Jembatan Hutaborgot putus akibat derasnya arus sungai memperparah akses ke wilayah terdampak.
Menanggapi kondisi darurat tersebut, Kodim 0212/Tapanuli Selatan (Kodim 0212/TS) segera menerjunkan personel untuk membantu penanganan bencana. Tugas utama: evakuasi warga, membersihkan material longsor, serta memastikan jalur dan akses vital kembali aman.
Evakuasi, Bersihkan Longsor, dan Amankan Akses Vital
Sejumlah personel Kodim 0212/TS dikerahkan ke lokasi terdampak untuk membantu evakuasi warga, terutama di area terdampak longsor dan di sekitar Jembatan Hutaborgot yang rusak berat. Selain itu, tim membersihkan puing dan material longsor serta meninjau kondisi akses jalan yang terputus, bekerja sama dengan pihak terkait.
Koordinasi juga dilakukan bersama BPBD Mandailing Natal dan Pemerintah Daerah setempat agar pemulihan infrastruktur dan akses bisa cepat dengan penanganan yang tepat dan terstruktur.
Komandan Kodim Tegaskan Prioritas Keselamatan Masyarakat
Komandan Kodim 0212/TS, Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo, menyatakan bahwa pengerahan personel merupakan respons cepat atas kondisi darurat.
“Kami fokus pada evakuasi warga, pendataan kerusakan, dan pemulihan akses yang terputus. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama kami,” ujarnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, pihak Kodim berharap warga terdampak segera memperoleh bantuan, dan akses vital ke wilayah terdampak bisa pulih mempermudah distribusi bantuan dan aktivitas pemulihan.
## Pujian dari Kodam I/BB dan Komitmen Penanganan Berkelanjutan
Kodam I/Bukit Barisan memberi apresiasi atas respon cepat Kodim 0212/TS. Kapendam I/BB, Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap, menilai tindakan tersebut menunjukkan komitmen tinggi dalam mendukung penanganan bencana di wilayah. Kodam memastikan dukungan terus diberikan hingga pemulihan berjalan optimal.
Pernyataan ini sekaligus menjadi bentuk nyata koordinasi antara militer, pemerintah daerah, dan instansi penanggulangan bencana agar penanganan tidak sekadar darurat, tetapi juga tertata dan berkesinambungan, dikutip dari Pendam I/BB.




