Harga Kakao Anjlok di Dairi: Petani Panik, Babinsa Turun Tangan

By Parlindungan - Wednesday, 15 October 2025
Serma Tumpal Padang saat menyambangi  J. Cibro, seorang penampung hasil bumi (foto; Pendim 0206/ Dairi)
Serma Tumpal Padang saat menyambangi J. Cibro, seorang penampung hasil bumi (foto; Pendim 0206/ Dairi)

Dairi, Kabarnas.id — Langkah nyata Babinsa Koramil 03/Parongil (Kodim 0206/Dairi), Serma Tumpal Padang, semakin memperlihatkan bahwa aparat keamanan tidak hanya berjaga keamanan, tetapi juga hadir menyerap keluh kesah warga. 

Serma Tumpal menggelar komunikasi sosial bersama para penampung kakao (toke coklat) di Kelurahan Parongil, Kecamatan Silima Pungga Pungga, Kabupaten Dairi, pada Rabu (15 Oktober 2025).


 Harga Kakao Merosot: “Dulu Rp 150.000, Kini Hanya Rp 38.000/Kg”


Dalam kesempatan itu, J. Cibro, seorang penampung hasil bumi, angkat bicara soal kondisi pasar kakao yang kini tengah terpuruk. Ia menyebut bahwa harga biji kakao dengan kadar air 6–7% kini hanya mencapai Rp 38.000 per kg — angka yang jauh merosot dibanding harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 150.000 per kg.

Penurunan drastis ini memicu gelombang keresahan di kalangan petani. Banyak dari mereka mengaku merasa “terlupakan,” terutama ketika harga tanaman pangan lainnya tetap stabil atau bahkan meningkat. Beberapa petani hadir dalam pertemuan tersebut dengan raut wajah cemas, berharap ada intervensi dari pemerintah daerah atau lembaga terkait agar pasar kakao tidak semakin bebas merdeka, yang bisa meminggirkan petani kecil.

Harapan Petani: Pemerintah Ikut Campur agar Harga Stabil


Para petani menyampaikan sejumlah permintaan konkret:

1. Stabilitas harga minimum — agar petani tidak merugi meskipun kondisi pasar fluktuatif.
2. Subsidi atau insentif — terutama dalam proses pengeringan, pengolahan, atau transportasi.
3. Fasilitasi akses pasar — agar kakao mereka tidak dijual ke tengkulak yang memaksa.
4. Pendampingan teknis — agar kualitas dan kadar air tetap baik, sehingga menghasilkan harga lebih tinggi.

Permintaan ini bukan tanpa dasar. Jika harga terus merosot, banyak petani mungkin akan beralih ke tanaman lain  yang secara jangka panjang bisa memengaruhi rantai produksi dan industri kakao di level lokal hingga nasional.

Babinsa: Sosok Dekat yang Mendengar dan Mendorong


Lebih dari sekadar aparat keamanan, kehadiran Serma Tumpal Padang dalam dialog ini menegaskan peran "Babinsa sebagai jembatan antara institusi negara dan masyarakat. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Babinsa Koramil 03/Parongil aktif melakukan komunikasi sosial (komsos) dengan warga — baik di warung kopi, sekolah, maupun pertemuan desa. 

Babinsa bukan sekadar menjaga keamanan wilayah, tetapi juga bertugas sebagai pendengar aspirasi masyarakat. Dalam dialog soal kakao ini, Serma Tumpal berupaya:

* Memfasilitasi aspirasi agar bisa sampai ke pemerintah kabupaten atau provinsi.
* Memberi semangat agar petani tidak putus asa menghadapi fluktuasi pasar.
* Menegaskan bahwa institusi TNI akan tetap hadir di tengah masyarakat, bahkan dalam persoalan kesejahteraan ekonomi.

 Dampak Potensial Jika Tidak Ditangani Serius


Jika kondisi ini dibiarkan, beberapa konsekuensi negatif bisa muncul:

1. Pemangkasan luas lahan kakao — petani memilih tanaman lain yang lebih stabil.
2. Pengurangan pendapatan petani — berpotensi menaikkan angka kemiskinan pedesaan.
3. Gangguan rantai produksi — industri olahan coklat bisa kekurangan bahan baku lokal.
4. Ketergantungan pada impor — jika produksi lokal menurun drastis.

Penutup: Krisis Harga Kakao & Tugas Bersama


Krisis harga kakao di Parongil ini menjadi pengingat bahwa sektor pertanian, meski sering dianggap sederhana, sangat rentan terhadap gejolak pasar. Pemerintah daerah, dinas pertanian, koperasi, lembaga keuangan, petani, hingga aparat keamanan punya peran masing-masing.

Kehadiran Babinsa Serma Tumpal Padang dalam dialog ini bisa menjadi langkah awal yang penting — sebagai penghubung serta pemantik agar berbagai pihak tidak diam di tengah krisis. Petani tidak perlu merasa sendirian ketika suara mereka didengar dan diperjuangkan bersama.