368 Sekolah di Tapanuli Tengah Rusak Akibat Banjir dan Longsor, Dinas Pendidikan Siapkan Sekolah Darurat

By Parlindungan - Thursday, 18 December 2025
Salah satu sekolah di Tapteng rusak akibat diterjang banjir
Salah satu sekolah di Tapteng rusak akibat diterjang banjir

Pandan — Dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah pada 25 November 2025 lalu telah merusak ratusan fasilitas pendidikan. Plt. Kepala Dinas Pendidikan Tapteng, Johannes Simanjuntak, S.Pd, MM, menyampaikan, setidaknya 368 sekolah terdampak, mulai dari PAUD hingga SMP, Kamis (18/12/2025).

Berdasarkan hasil koordinasi dan pendataan lapangan bersama satuan pendidikan di wilayah terdampak, jumlah sekolah yang rusak meliputi 126 PAUD, 192 SD, dan 50 SMP. Data ini juga telah disinkronkan dengan BPBD Tapteng. Johannes menjelaskan bahwa kerusakan beragam, dari ringan hingga berat, bahkan beberapa gedung harus direlokasi karena sudah tidak dapat digunakan.

Untuk mengatasi gangguan proses belajar mengajar akibat bencana, Dinas Pendidikan Tapteng telah melakukan berbagai upaya, antara lain:

  1. Pembelajaran menyenangkan tanpa PR bagi sekolah yang tidak terdampak secara langsung.
  2. Trauma Healing bagi siswa terdampak di lokasi pengungsian dan tenda sekolah darurat.
  3. Pendirian Posko Tenda Sekolah Darurat di beberapa kecamatan: Tukka (4 tenda), Pandan (1 tenda di Catolik Center), Badiri (2 tenda di Aula Kantor Camat dan Lapangan Bola Kebun Pisang).
  4. Pendampingan psikologis bekerja sama dengan Save the Children dan tim psikolog Dinas PPPA Tapteng, serta rencana menghadirkan tim psikolog dari BBGTK Sumatera Utara.
  5. Bantuan langsung dari Kemendikdasmen dan Pemkab Tapteng untuk 3 guru, 10 siswa, serta 52 satuan pendidikan tingkat TK, SD, dan SMP terdampak.
  6. Akselerasi pembersihan sekolah menggunakan alat berat/Beko untuk menghilangkan lumpur dan sisa banjir.
  7. Inventarisasi mobiler sekolah yang masih layak pakai.
  8. Persiapan pemulihan penuh agar kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat berjalan normal di awal Tahun Ajaran 2026.

Mengutip Diskominfo Tapteng, Johannes Simanjuntak menambahkan, saat ini pembelajaran tatap muka/luring sudah berlangsung di sekolah yang tidak terdampak, sementara sekolah terdampak bencana melaksanakan pembelajaran daring.

Upaya ini menjadi bagian dari strategi Pemkab Tapteng untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan, sekaligus mendukung pemulihan masyarakat pascabencana.